Sebagai hamba Allah SWT yang baik, seyogyanya kita harus saling
mencintai, saling mengasihi, saling menghormati, saling mengisi, saling
melengkapi, saling bahu-membahu, saling tolong menolong agar selalu ada hubugan
baik degan sesame. Ada beberapa persoalan yang ada di masyarakat sepertihalnya ingin
menjatuhkan pemimpin yang sah, berebut kekuasaan, berebut kedudukan, berebut
harta warisan dan sebagainya. Misalnya yang semula adalah saudara, yang semula
adalah teman dekat, yang semula adalah tetangga yang baik karena ada sifat
dengki maka aka merubah segalanya. Jika hal demikian terjadi, akan menimbulkan
perpecahan, pertikaian. Jika hanya menuruti keinginan dan kesenagan semata, itu
tidak ada batasnya.
Pada suatu majelis. Saya teringat dawuh ibu nyai saudah. saya
mencoba mendegarkan degan seksama dan mencatat beberapa bagian di buku tulis.
Beliau menceritakan kisah zaman terdahulu ada dua orang yang saleh. Suatu
ketika kedua orang Shaleh tersebut melakukan transaksi jual beli tanah. Kedua
orang saleh tersebut memiliki sifat yang jujur, amanah dan tidak mudah
diperdaya oleh gemerlapnya dunia. Orang saleh tersebut membeli sebidang tanah
kepada orang saleh satunya. Sebut saja bapak zaid dan bapak umar. Bapak zaid
membeli tanah kepada bapak umar dan sudah dibayar lunas.
Beberapa hari kemudian bapak zaid mendatangi bapak umar.
Kedatanganya bukan komplain atau tidak cocok degan tanah yang sudah dibeli,
melainkan ia akan memberikan seguci emas.
Bapak zaid ketika mengarap tanah
untuk ditanami ia menemukan seguci emas. Ia bermaksud mengembalikan seguci emas
itu kepada bapak umar. Bapak zaid itu berkata, ambillah emasmu wahai pak umar,
saya hanya membeli tanah bapak.
Namun bapak umar berkata. Itu
bukan emasku, karena emas itu di dalam tanah berarti itu hakmu pak zaid.
Seperti kejujuranya pak zaid menemukan harta yg terpendam. Bgitu juga pak umar
berkata jujur, Itu bukan hartanya. Karena pak umar sudah menjual tanah berarti
sudah menjual seisinya.
Berikut sikap orang saleh yang tidak berebut harta. Keduanya
juga merasa takut harta itu bukan haknya. Keduanya kebingugan hingga pada
akhirnya mendatangkan seorang qodhi.
Seorang qodhi menemukan solusi.
Qodhi itu tanya pada pak zaid. Apa bapak punya anak? Jawab pak zaid, saya punya
anak laki-laki. Qodhi juga bertanya pada pak umar. Pak umar apa punya anak
gadis? Jawab pak umar, Iya. Saya punya anak gadis. Kemudian qodhi itu
memerintahkan agar anaknya dijodohkan dan akhirnya temuan emas tersebut
dihadiahkan kepada anaknya.
Begitulah
sikap orang yang saleh. Ia tidak merebutkan seguci emas, malah ia akan
memberikan kepada orang lain yang ia angap hak orang lain tersebut. Degan sikap
kehati-hatianya ia takut terhadap sesuatu yang ia rasa bukan miliknya. Kisah tersebut
disampaikan oleh beliau saat ngaji setelah sholat isya’. Semoga kita semua
diberikan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Aamiin… wallahu
a’lam bishshawab.

Inspiratif
BalasHapusTerimakasih bnyak prof. Pagestunipun panjenegan 🙏
HapusBuah dari kejujuran adalah kebaikan yang serupa dengannya, bahkan lebih.
BalasHapusTerimakasih mas alfian.
HapusCatatan yang menginspirasi
BalasHapus