Langsung ke konten utama

Membiasakan diri berbicara dengan benar dan baik

 

Membiasakan diri berbicara dengan  benar dan baik



Kita sebagai makhluk sosial maka tidak lepas dengan namanya  interaksi dengan sesama. Didalam interaksi dengan sesama maka perlu menjalin hubungan yang baik dan harmonis kepada saudara, sahabat, teman, keluarga dan orang lain. Baik secara perkataan maupun perbuatan. Kita hidup di dunia ini tidaklah sendiri, akan tetapi bersama dengan yang lainnya. Maka ketika kita berbicara dengan orang lain hendaknya dengan sopan santun. Serta berkata sesuai realita yang ada dan tidahlah berkata dengan kebohongan.

Kita harus mengetahui ilmu akhlak saat kita berbicara dengan orang lain. Seperti halnya jagan memotong pembicaraan orang lain disaat ia sedang berbicara, berbicaralah yang baik dan santun, rendahkanlah nada suara kita saat kita berbicara, apabila orang lain sedang berbicara dengan kita maka dengarkanlah dan hargailah jagan memaligkan wajah kita kearah lain. Kita juga harus memperhatikan siapa yang kita ajak bicara.

Selain sopan santun yang diperlukan dalam berbicara maka yang paling penting adalah berbicara dengan benar jagan sampai berkata dengan dusta. Jika kita terbiasa berkata dusta maka orang lain tak akan percaya kepada kita sekalipun yang dikatakan benar. Dan orang lain sudah mengangap kita sebagai orang yang tidak jujur. Apabila orang lain sudah mengangap sebagai pendusta walaupun kita mengatakan dengan sebenarnya maka orang tersebut masih ragu terhadap kita.

Rasulullah SAW besabda, yang artinya; Hendaklah kamu berkata benar, karena berkata benar itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga. Apabila seseorang senantiasa membiasakan berkata benar dan cenderung kepada berkata benar, maka orang itu di catat disisi Allah sebagai orang yang selalu benar. Dan jauhilah berkata dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke neraka. Apabila seseorang senantiasa berdusta, akhirnya ia dicatat disisi Allah sebagai orang yang sangat pendusta (HR Bukhori dan Muslim )

Jadi berdasar pada hadist di atas maka kita harus berusaha untuk berkata benar dan hendak menjauhi berkata dusta. Karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membawa ke neraka. Tentu kita tau bahwa neraka adalah tempat yang teramat pedih.

 

Saat saya masih duduk di bangku SMP saya teringat cerita ibu saya bahwa di akhirat kelak kita menyebrangi jembatan yang besarnya bagaikan seheli rambut dibagi tujuh dan lebih tajam dari pedang, saya saat itu membayangkan seperti apa nanti. Tapi ibu saya menambahkan kalo orangnya baik, sholeh insyaallah bisa selamat. Beliau juga menasehati saya untuk berkata yang baik, tidak boleh berbohong, tidak boleh berkata kotor atau misuh, berbicara kepada orang yang lebih tua harus mengunakan kromo inggil ( bahasa jawa halus).

 Setelah dewasa saya juga menemukan beberapa sumber dari buku maupun penjelasan dari kitab. Tentu kita tau bahwa salah satu peristiwa dahsyat yang bakal dialami oleh setiap orang kelak yakni menyebrangi jembatan. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw mengambarkaan keadaan jembatan dimaksud. Jembatan itu lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Betapa sulitnya bagi kita untuk menyeberang diatasnya. Tetapi Allah maha perkasa sekaligus maha bijaksana. Allah akan berikan bekal bagi imanya yang sejati untuk sangup melintas di atas jembatan tersebut. Mari kita meningkatkan kebaikan, salah satunya dengan selalu berkata benar agar menjadi orang yang selamat di dunia dan juga selamat di akhirat. Aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak rugi memiliki mimpi

 Tidak rugi memiliki mimpi Orang yang memiliki mimpi tidaklah rugi. Sebab bermimpi tidaklah memerlukan biaya. Saya teringat dawuh guru saat belajar " bermimpilah pada malam hari dan wujudkan mimpi itu pada siang hari"  Seperti istilah yang tidak asing lagi yang sering kita dengar " Bengi macul langit awan macul bumi" Untuk mewujudkan mimpi tersebut butuh usaha dan upaya serta do'a yang tak pernah padam. Dalam mewujudkan mimpi butuh perjuangan, pengorbanan dan tidak luput dari halangan dan rintangan. Mungkin kita harus meningalkan tanah kelahiran kita untuk sementara waktu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagaimana yang penah didawuhkan oleh imam Syafi'i " Tiada kata diam dan santai bagi orang yang berakal dan beradab. Maka tinggalkan kampung halaman dan merantaulah".  Seperti halnya jika air tidak mengalir dan mengenang terlalu lama maka air tersebut akan kotor dan berbau tidak enak. Air akan menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika tid...

Bekerja, beribadah dan istirahat

 Bekerja, beribadah dan istirahat Setiap manusia mendambakan hidup yang bahagia, hidup yang berkah dan hidup yang memberikan kemanfaatan yang baik. Mencari kebahagiaan di dunia mapun kebahagiaan di akhirat nanti. Terkadang kita sampai lupa mencari kebahagiaan dunia sampai melupakan kebahagiaan di akhirat. Sebagai contoh siang malam bekerja mencari uang untuk membeli mobil mewah, membagun rumah yang mengah sampai lupa meninggalkan kewajiban sholat lima waktu. Terkadang juga sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri. Maka perlunya keseimbangan antara beribadah bekerja dan istirahat untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Saya teringat dawuh guru yang mengutip dari kitab karya imam al Ghozali. Yang berisi tentang pentingnya membagi waktu yang seimbang antara bekerja beribadah dan istirahat. Sebab istirahat juga penting untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat beribadah dan bekerja dengan baik. Selain itu sang guru juga menjelaskan bahwasanya di negar...

Sibuk kebaikan

Waktu memiliki sifat cepat dan tajam yang jika tidak digunakan untuk kebaikan, akan menebas atau memotong penggunanya. Yaitu membawa kerugian atau penyesalan dikemudian hari. Maka peting sekali kita mengunakan waktu kita untuk perbuatan yang baik. Jangan digunakan untuk perbuatan kemaksiatan  agar kita tidak menyesal dikemudian hari. Dawuh ibu nyai siti saudah, " Lakukanlah amalan wajib dan tambahkanlah amalan-amalan sunah, karena amalan-amalan sunah dapat menambal amalan-amalan yang belum sempurna" Jika setiap hari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kecil maupun besar tingkatan iman akan bertambah. Setiap amal sholeh baik perkataan maupun perbuatan, baik amal hati maupun amal jasad pasti akan menambah keimanan. Dan keimanan akan bertambah dengan adanya ketaatan kepada Allah SWT dan kemaksiatan akan berkurang. Seperti halnya jika kita hanya duduk sendirian dan melamun fikiran tidak berkembang dan cenderung ke negatif maka perlu diri...