Membiasakan
diri berbicara dengan benar dan baik
Kita
sebagai makhluk sosial maka tidak lepas dengan namanya interaksi dengan sesama. Didalam interaksi
dengan sesama maka perlu menjalin hubungan yang baik dan harmonis kepada
saudara, sahabat, teman, keluarga dan orang lain. Baik secara perkataan maupun
perbuatan. Kita hidup di dunia ini tidaklah sendiri, akan tetapi bersama dengan
yang lainnya. Maka ketika kita berbicara dengan orang lain hendaknya dengan
sopan santun. Serta berkata sesuai realita yang ada dan tidahlah berkata dengan
kebohongan.
Kita
harus mengetahui ilmu akhlak saat kita berbicara dengan orang lain. Seperti
halnya jagan memotong pembicaraan orang lain disaat ia sedang berbicara,
berbicaralah yang baik dan santun, rendahkanlah nada suara kita saat kita
berbicara, apabila orang lain sedang berbicara dengan kita maka dengarkanlah
dan hargailah jagan memaligkan wajah kita kearah lain. Kita juga harus
memperhatikan siapa yang kita ajak bicara.
Selain
sopan santun yang diperlukan dalam berbicara maka yang paling penting adalah
berbicara dengan benar jagan sampai berkata dengan dusta. Jika kita terbiasa
berkata dusta maka orang lain tak akan percaya kepada kita sekalipun yang
dikatakan benar. Dan orang lain sudah mengangap kita sebagai orang yang tidak
jujur. Apabila orang lain sudah mengangap sebagai pendusta walaupun kita
mengatakan dengan sebenarnya maka orang tersebut masih ragu terhadap kita.
Rasulullah
SAW besabda, yang artinya; Hendaklah kamu berkata benar, karena berkata
benar itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga.
Apabila seseorang senantiasa membiasakan berkata benar dan cenderung kepada
berkata benar, maka orang itu di catat disisi Allah sebagai orang yang selalu
benar. Dan jauhilah berkata dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan,
dan kejahatan itu membawa ke neraka. Apabila seseorang senantiasa berdusta,
akhirnya ia dicatat disisi Allah sebagai orang yang sangat pendusta (HR
Bukhori dan Muslim )
Jadi
berdasar pada hadist di atas maka kita harus berusaha untuk berkata benar dan
hendak menjauhi berkata dusta. Karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan
kejahatan itu akan membawa ke neraka. Tentu kita tau bahwa neraka adalah tempat
yang teramat pedih.
Saat
saya masih duduk di bangku SMP saya teringat cerita ibu saya bahwa di akhirat
kelak kita menyebrangi jembatan yang besarnya bagaikan seheli rambut dibagi
tujuh dan lebih tajam dari pedang, saya saat itu membayangkan seperti apa
nanti. Tapi ibu saya menambahkan kalo orangnya baik, sholeh insyaallah bisa
selamat. Beliau juga menasehati saya untuk berkata yang baik, tidak boleh
berbohong, tidak boleh berkata kotor atau misuh, berbicara kepada orang yang
lebih tua harus mengunakan kromo inggil ( bahasa jawa halus).
Setelah dewasa saya juga menemukan beberapa
sumber dari buku maupun penjelasan dari kitab. Tentu kita tau bahwa salah satu
peristiwa dahsyat yang bakal dialami oleh setiap orang kelak yakni menyebrangi
jembatan. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw mengambarkaan keadaan jembatan
dimaksud. Jembatan itu lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah
pedang. Betapa sulitnya bagi kita untuk menyeberang diatasnya. Tetapi Allah
maha perkasa sekaligus maha bijaksana. Allah akan berikan bekal bagi imanya
yang sejati untuk sangup melintas di atas jembatan tersebut. Mari kita meningkatkan
kebaikan, salah satunya dengan selalu berkata benar agar menjadi orang yang
selamat di dunia dan juga selamat di akhirat. Aamiin.
Terima kasih nasihatnya Mas. Semoga kita tergolong orang yang berkata baik dan benar.
BalasHapusAamiin🤲. Makasih mbk udah berkenan berkunjung....
BalasHapusMantaab
BalasHapus