Langsung ke konten utama

Sekarang bukan lagi zamannya perang dengan pedang

 

 

Sekarang bukan lagi zamannya perang dengan pedang tapi zamanya perang melawan hawa nafsu


Zaman sekarang yang perlu di perangi adalah hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan, bukan lagi zamanya perang dengan pedang. Manusia diciptakan oleh Tuhan di beri akal dan hawanafsu. Tergantung bagaimana manusia mempergunakan akal dan nafsu itu.

Hewan dan manusia memiliki persamaan yaitu sama-sama memiliki nafsu dan yang membedakan antara manusia dan hewan adalah akal. Maka sekiranya untuk senantiasa mengendalikan hawa nafsu. cara  mengendalikan hawa nafsu yang mengajak kepada kemungkaran ialah dengan riyadhoh.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu manusia terbagi menjadi tiga. Pertama, An-nafs al-ammarah bissu’. Apabila nafsu ini meninggalkan tantangan dan tunduk serta taat kepada tuntutan nafsu syahwat dan dorongan-dorongan setan. Nafsu ini mendorong kepada kejahatan.

Kedua, An-nafs al-lawwamah. Apabila ketenangan tidak sempurna, akan tetapi menjadi pendorong kepada nafsu syahwat dan menentangya. Nafsu ini juga mencaci pemiliknya ketika ia teledor dalam beribadah kepada Allah. Nafsu ini pula sumber penyesatan karena ia patuh terhadap akal.

Sedangkan ketiga, An-nafs al-Muthmainah. Apabila dia tenang, di bawah perintah dan jauh dari goncangan disebabkan menentang nafsu syahwat.

Diantara nafsu yang perlu dikendalikan ialah nafsu menjaga isi perut. Sebab jika kita berlebihan dalam mengisi perut maka kita akan terasa malas untuk melakukan aktifitas. Dampak dari makan berlebihan selain menjadi malas untuk beraktifitas bisa menjadi sebab permulaan munculnya penyakit yang menyerang tubuh kita.

 

                Menjaga perut agar tidak berlebihan dalam makan dan minum sebenarnya hal yang sedikit sepele, akan tetapi berat untuk menjaganya. Apalagi menu makanan dan minuman yang disajikan merupakan yang kita sukai. Ketika makan makanan yang kita suakai belum berhenti jika belum benar-benar terasa kenyang. Sepertihalnya saat seharian melakukan puasa ketika sudah masuk waktu berbuka maka berbagai menu makanan akan masuk pada perut.

 

            Ketika kita makan terasa enak makanan tersebut saat makanan itu berada di dalam mulut, setelah sampai di dalam perut semua sama baik itu makan sate atau makan sayur blendrang.

 

Saya teringat dawuh guru saat mengaji: lek mangan ojo sampek kewareken, lek wes kewareken hawane males, lek wes males ngantuk, lek wes ngantu turu lek wes turu wes ora ngaji, ora sinau

Memng benar salah satu penyenbab kemalasan adalah perut yang terlalu kenyang dan mata menjadi ngantuk sehinga tubuh akan malas untuk bergerak alias mager.

Rasa kantuk membuat otak manusia menjadi pasif ia malas untuk berfikir, bekerja dan berinadah. Itulah sebabnya didalam agama islam makan secukupnya makan di saat perut terasa lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Rasulullah SAW bersabda: tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak adam memakan benerapa suapan untuk menegakkan pungungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya ( diisi ) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas ( HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Dan Ahmad)

Imam syafii berkata karena kekenyangen membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan malas beribadah.

Beberapa ulama beranggapan, kenyang adalah sesuatu yang makruh dan bahkan bisa berubah menjadi haram. Salah satu yang berpendapat demikian adalah Ibnu Hajar. Beliau mengatakan, larangan kenyang dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat penuh perut dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur, dan malas. Bisa jadi hukumnya berubah dari makruh menjadi haram, sesuai dampak buruk yang ditimbulkan.

 

Kabarnya, Albert Einstein sering membiarkan dirinya berada dalam perut yang kosong. Karena ia percaya, saat lapar pikiranya justru bekerja lebih produktif. Inilah sebabnya para pembisnis sukses juga selalu menganjurkan kepada para pemula untuk tetap membiasakan diri mereka dalam kondisi perut setabil agar tetap produktif.

Sebaliknya perut yang stabil tidak terlalu kekenyangan dan tidak lapar dipercaya membuat seseorang menjadi lebih kreatif. Orang yang perutnya kosong cenderung akan memutar otak mrncari cara agar dapat menyelesaikan masalah masalah dalam hidupnya.

 

 

Selamat Hari Santri Nasional.

Santri Sehat Indonesia Kuat

Tulungagung, 22 Oktober 2020

 

Komentar

  1. Benar saya setuju bahwa dalam keadaan perut stabil, kita bisa produktif dalam menjalani hidup. Tulisan yang bagus, tapi perlu diperhatikan kata sambung "di". Jika "di" menyambungkan kata tempat, maka perlu dipisah. Tapi, selain kata temapt tidak perlu dipisah. Misal ditulisane smpyn di perangi. Seharusnya digabung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih pak masukan dan arahanya, semoga kedepnnya bisa lebih baik lagi.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak rugi memiliki mimpi

 Tidak rugi memiliki mimpi Orang yang memiliki mimpi tidaklah rugi. Sebab bermimpi tidaklah memerlukan biaya. Saya teringat dawuh guru saat belajar " bermimpilah pada malam hari dan wujudkan mimpi itu pada siang hari"  Seperti istilah yang tidak asing lagi yang sering kita dengar " Bengi macul langit awan macul bumi" Untuk mewujudkan mimpi tersebut butuh usaha dan upaya serta do'a yang tak pernah padam. Dalam mewujudkan mimpi butuh perjuangan, pengorbanan dan tidak luput dari halangan dan rintangan. Mungkin kita harus meningalkan tanah kelahiran kita untuk sementara waktu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagaimana yang penah didawuhkan oleh imam Syafi'i " Tiada kata diam dan santai bagi orang yang berakal dan beradab. Maka tinggalkan kampung halaman dan merantaulah".  Seperti halnya jika air tidak mengalir dan mengenang terlalu lama maka air tersebut akan kotor dan berbau tidak enak. Air akan menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika tid...

Bekerja, beribadah dan istirahat

 Bekerja, beribadah dan istirahat Setiap manusia mendambakan hidup yang bahagia, hidup yang berkah dan hidup yang memberikan kemanfaatan yang baik. Mencari kebahagiaan di dunia mapun kebahagiaan di akhirat nanti. Terkadang kita sampai lupa mencari kebahagiaan dunia sampai melupakan kebahagiaan di akhirat. Sebagai contoh siang malam bekerja mencari uang untuk membeli mobil mewah, membagun rumah yang mengah sampai lupa meninggalkan kewajiban sholat lima waktu. Terkadang juga sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri. Maka perlunya keseimbangan antara beribadah bekerja dan istirahat untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Saya teringat dawuh guru yang mengutip dari kitab karya imam al Ghozali. Yang berisi tentang pentingnya membagi waktu yang seimbang antara bekerja beribadah dan istirahat. Sebab istirahat juga penting untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat beribadah dan bekerja dengan baik. Selain itu sang guru juga menjelaskan bahwasanya di negar...

Sibuk kebaikan

Waktu memiliki sifat cepat dan tajam yang jika tidak digunakan untuk kebaikan, akan menebas atau memotong penggunanya. Yaitu membawa kerugian atau penyesalan dikemudian hari. Maka peting sekali kita mengunakan waktu kita untuk perbuatan yang baik. Jangan digunakan untuk perbuatan kemaksiatan  agar kita tidak menyesal dikemudian hari. Dawuh ibu nyai siti saudah, " Lakukanlah amalan wajib dan tambahkanlah amalan-amalan sunah, karena amalan-amalan sunah dapat menambal amalan-amalan yang belum sempurna" Jika setiap hari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kecil maupun besar tingkatan iman akan bertambah. Setiap amal sholeh baik perkataan maupun perbuatan, baik amal hati maupun amal jasad pasti akan menambah keimanan. Dan keimanan akan bertambah dengan adanya ketaatan kepada Allah SWT dan kemaksiatan akan berkurang. Seperti halnya jika kita hanya duduk sendirian dan melamun fikiran tidak berkembang dan cenderung ke negatif maka perlu diri...