Langsung ke konten utama

Mencari ilmu dan mengamalkannya

Mencari ilmu dan mengamalkannya



Agama islam mewajibkan bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan untuk mencari ilmu. Banyak cara yang dapat di tempuh dalam mencari ilmu seperti mengaji kepada seorang guru di masjid, madrasah, sekolah, membaca buku, menghadiri majlis ilmu dan masih banyak jalan lain yang ditempuh dalam mencari ilmu.

Setelah ilmu didapat maka harus diamalkan. Karena tujuan belajar untuk perubahan yang lebih baik, mengubah perilaku, kebiasaan dan sikap yang lebih baik. Terkadang permasalah yang kita hadapi ialah kita mengetahui ilmu tersebut akan tetapi kita terkena penyakit malas sehingga enggan untuk mengamalkannya. Sebagai contoh kita mengetahui bahwasannya sholat berjamaah itu lebih utama daripada sholat sendiri sebanyak 27 derajat. Akan tetapi terkadang kita masih dikendalikan hawa nafsu. Saat terdegar adzan masjid yang berkumandang kita masih degan santainya bermain hp atau kesibukan yang lain. Sepertihalnya seorang guru di sekolah menasihati muridnya untuk terus belajar, membaca, menulis.  Akan tatapi terkadang kita masih terjangkit penyakit malas. Maka dari itu penyakit malas harus dilawan.

Contoh yang lain saat kita masih kecil guru disekolah, guru di madrasah, orang tua di rumah mengajarkan untuk menghafal do’a-do’a keseharian seperti do’a mau makan, do’a setelah makan, do’a mau tidur, do’a setelah tidur. Kita mengetahui do’a-do’a keseharian tersebut tapi tidak diamalkan. Seperti dawuh Imam Ghazali ‘’ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dana mal tanpa ilmu adalah kesia-siaan’’.

Sebagaimana dalam kitab ayyuhal walad. Amalkanlah ilmumu, anakku tersayang. Janganlah engkau bangkrut hingga tidak punya amal ( jasadiah ) dan tidak memiliki ahwal ( amal qolbiah) yakinlah, ilmu saja tidak akan bisa menolong. Andai ada seorang pemberani dan ahli pedang ditengah-tengah gurun membawa sepuluh pedang india ditambah senjata yang lain. Tiba-tiba seekor singa yang besar dan menakutkan menerkamnya. Menurutmu, apakah senjata-senjata itu akan melindunginya jika tidak digunakan dan ditebaskan ? Tentu tidak bisa. Ia harus mengunakan senjatanya jika ingin menghantam singa yang menerkamnya.

Begitu juga jika seseorang membaca seratus ribu masalah ilmiah dan mempelajarinya, namun ia tidak mengamalkanya maka itu tidak akan memberinya manfaat kecuali kalau diamalkan.

Kitab ayyuhal walad juga menjelaskan. Anakku tersayang meskipun engkau membaca ilmu selama seratus tahun dan menumpuk seribu buku tidak berarti engkau siap mendapat rahmat Allah, kecuali jika ilmu itu kau amalkan. Iman diucapka dengan lisan, dibenarkan dengan hati dan diamalkan dengan anggota badan. Bahwasanya ilmu tanpa amal adalah gila, sedangkan amal tanpa ilmu itu percuma. Sia sia.

Ketahuilah ilmu yang tidak membuatmu jauh dari kemaksiatan dan tidak mengantarmu pada ketaatan, kelak ia takkan menjadi safaat yang menjauhkanmu dari neraka jahanam. Apabila sekarang engkau tidak beramal saleh serta tidak memperbaiki masa lalumu, kelak pada hari kiamat engakau akan berkata. Kembalikan kami, niscaya kami melakukan amal shaleh  lalu akan di jawab  wahai bodoh bukankah engkau dating dari sana.

Ilmu yang telah kita peroleh membutuhkan lahan agar ilmu tersebut dapat menjadi penolong bagi kita, yaitu dengan cara mengamalkannya, baik dengan mengajarkannya maupun mengamalkan pada kehidupan sehari-hari kita. Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Maka ilmu dan amal memiliki keterkaitan yang sangat erat. Wallahu a’lam bishawab.

 

 


 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak rugi memiliki mimpi

 Tidak rugi memiliki mimpi Orang yang memiliki mimpi tidaklah rugi. Sebab bermimpi tidaklah memerlukan biaya. Saya teringat dawuh guru saat belajar " bermimpilah pada malam hari dan wujudkan mimpi itu pada siang hari"  Seperti istilah yang tidak asing lagi yang sering kita dengar " Bengi macul langit awan macul bumi" Untuk mewujudkan mimpi tersebut butuh usaha dan upaya serta do'a yang tak pernah padam. Dalam mewujudkan mimpi butuh perjuangan, pengorbanan dan tidak luput dari halangan dan rintangan. Mungkin kita harus meningalkan tanah kelahiran kita untuk sementara waktu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagaimana yang penah didawuhkan oleh imam Syafi'i " Tiada kata diam dan santai bagi orang yang berakal dan beradab. Maka tinggalkan kampung halaman dan merantaulah".  Seperti halnya jika air tidak mengalir dan mengenang terlalu lama maka air tersebut akan kotor dan berbau tidak enak. Air akan menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika tid...

Bekerja, beribadah dan istirahat

 Bekerja, beribadah dan istirahat Setiap manusia mendambakan hidup yang bahagia, hidup yang berkah dan hidup yang memberikan kemanfaatan yang baik. Mencari kebahagiaan di dunia mapun kebahagiaan di akhirat nanti. Terkadang kita sampai lupa mencari kebahagiaan dunia sampai melupakan kebahagiaan di akhirat. Sebagai contoh siang malam bekerja mencari uang untuk membeli mobil mewah, membagun rumah yang mengah sampai lupa meninggalkan kewajiban sholat lima waktu. Terkadang juga sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri. Maka perlunya keseimbangan antara beribadah bekerja dan istirahat untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Saya teringat dawuh guru yang mengutip dari kitab karya imam al Ghozali. Yang berisi tentang pentingnya membagi waktu yang seimbang antara bekerja beribadah dan istirahat. Sebab istirahat juga penting untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat beribadah dan bekerja dengan baik. Selain itu sang guru juga menjelaskan bahwasanya di negar...

Sibuk kebaikan

Waktu memiliki sifat cepat dan tajam yang jika tidak digunakan untuk kebaikan, akan menebas atau memotong penggunanya. Yaitu membawa kerugian atau penyesalan dikemudian hari. Maka peting sekali kita mengunakan waktu kita untuk perbuatan yang baik. Jangan digunakan untuk perbuatan kemaksiatan  agar kita tidak menyesal dikemudian hari. Dawuh ibu nyai siti saudah, " Lakukanlah amalan wajib dan tambahkanlah amalan-amalan sunah, karena amalan-amalan sunah dapat menambal amalan-amalan yang belum sempurna" Jika setiap hari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kecil maupun besar tingkatan iman akan bertambah. Setiap amal sholeh baik perkataan maupun perbuatan, baik amal hati maupun amal jasad pasti akan menambah keimanan. Dan keimanan akan bertambah dengan adanya ketaatan kepada Allah SWT dan kemaksiatan akan berkurang. Seperti halnya jika kita hanya duduk sendirian dan melamun fikiran tidak berkembang dan cenderung ke negatif maka perlu diri...