Nasehat Guru ’’jangan pacaran’’
Cerita awal mondok. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah saya didaftarkan mondok oleh bapak di salah satu pondok pesantren yang berada di desa Plosokandang Tulungagung. Setelah beberapa hari di pondok pesantren. Saya berusaha untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Bapak memberi nasehat agar betah dulu di pondok. Pada awal-awal di pondok jujur saya belum krasan dan pengen pulang. Akan tetapi orang tua sudah sowan ke ndalem kiyai memasrahkan saya untuk mencari ilmu disini.
Kegiatan demi kegiatan yang ada di pondok pesantren saya berusaha mengikutinya. Walaupun saat kegiatan masih teringat rumah dan teringat bapak dan ibuk. pada keesokan harinya setelah kegiatan ngaji pagi saya membantu memasak di dapur ndalem bersama kang-kang senior. Saya diajari banyak hal tentak cara memasak.
Terkait ilmu memasak saya belum bisa. Cuma kalau dirumah membantu ibu mencuci piring, gelas, menanak nasi. Untuk membuat bumbu masakan belum berpegalaman sama sekali dan juga belum mengetahui tata cara memasak yang baik agar masakan menajdi enak. Saat itu yang biasa di dapur ada kang nawer, mas munib dan kang didik.
Saat pagi hari ketika saya dan kang-kang lainya memasak saya ditimbali ( di panggil) oleh Gus. Beliau merupakan putra dari kiyai pengasuh pondok pesantren ini. Beliau merupakan pimpinan pondok pesantren.
Seperti yang pernah aku lihat dari kang-kang senior ketika menghadap guru ia menundukkan kepala dengan rasa hormat dan ta’dhim serta berbicara dengan mengunakan bahasa yang sopan dan santun. Kalau disini mengunakan bahasa jawa halus atau disebut dengan kromo inggil.
Pada saat itu aku ditanya tentang asalku dari daerah mana. Akupun menjawab kulo saking Pacitan. (saya dari pacitan )
Kemudian beliau bertanya, Pacitane desane opo ? saya menjawab desanipu Pager Lor. Beliau dawuh kalau dulu beliau pernah kesana dan ada beberapa santri alumni yang rumahnya di desa Pager lor dan desa Pager kidul. Beliau juga memberikan nasehat kepadaku, le ngaji ning pondok kudu seng tenan.
Beliau dawuh:
Saiki sampean wes baliq, sampean bocah lanag, wong tuo kui wes ora kewajiban nafaqohi koyo awakmu kui. Mulo kudu tenana le ngaji, ojo sampek nyusahne wong tuo. Ning pondok ojo sampek pacaran. Lek sampek pacaran tak jewer.
Beliau juga menasehati bahwa orang tua itu tidak berkewajiban menafkahi kepada kita sebagai anak laki-laki yang sudah baligh kalaupun itu masih di berikan berarti itu seperti sadaqoh orang tua kepada kita. Setelah mendengarkan nasehat guru sayapun mencoba untuk tidak meminta uang atau sanggu kepada orang tua. Apabila ada hal yang sifatnya dhorurat seperti bayar bulanan atau iuran yang lain saya baru telvon minta kiriman
Aku masih teringat sampai sekarang beliau menasehati agar semangat dalam mencari ilmu di pondok pesantren, jangan sampai memberatkan orang tua. Baliau juga menasehati untuk tidak pacaran. Pacaran dalam agama islam itu di larang. Banyak refrensi yang mengatakan laragan orang berpacaran. Karena pacaran tersebut dapat mendekatkan kepada perzinaan.

Komentar
Posting Komentar