Orang jawa dan sikap budi luhur
Orang jawa dulu sudah mulai di beri wejangan oleh orang tuanya maupun guru gurunya untuk memiliki sikap budi yang luhur. Kita sebagai makhluk yang hidup bermasyarakat dituntut untuk berbuat baik kepada sesama dan berusaha untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain.
Berusaha untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain merupakan suatu pengendalian nafsu yang seringkali sukar bisa diwujudukan. Terkadang ucapan dan tindakan seringkali membuat sakit hati orang lain. Perbuatan buruk manusia berpangkal pada keserakahan dan keirihatian. Semisal tetangga membeli televisi baru kita merasa iri. Selama itu pula ia akan menghadapi persoalan di dalam ber masyarakat.
Orang jawa bisa ngobrol juga bisa memberikan pitutur berjam-jam lamanya. Nasehat-nasehat moral yang banyak beredar di kalangan masyarakat seperti rutinan pengajian dan nasehat nasehatnya bisa membikin kita elleng atau sadar.
Degan sikap budi luhur manusia bisa hidup tenang, tentram dan damai di dalam bermasyarakat. Menanamkan sikap budi luhur sangat diperlukan agar kita bisa diterima orang lain.
Sifat dan kebiasaan orang jawa yang yang diajarkan nenek moyang untuk berperilaku santun, ramah dan berbudi luhur. Seperti yang kita tau anak kecil yang diajari ibunya untuk bersikap sopan santun. Misalnya anak kecil yang diberikan seauatu oleh orang lain. Maka sang ibu akan membelajari anaknya untuk mengucapkan terimakasih.
Saya teringat guru di tingkat dasar mengajarkan kepada murid-muridnya lek dipari matursuwun, ditimbali matur dalem, yen liwat derek langkung, yen lepat nyuwun pagapunten.
Degan pembelajaran seperti itu dan bisa mengamalkanya kita dapat diterima oleh masyarakat. Berbeda halnya jika berperilaku kurang baik, bersifat arogan maka sifat demikian kurang di terima di lingkungan masyarakat.

Komentar
Posting Komentar