Guru-guruku
yang hebat
Bagian
1
Ibu dan bapak adalah guru pertama
yang mendidikku. Mulai dari memperkenalkan huruf hijaiyah, berhitung sampai
dengan huruf a,b,c,d. Ibu dan bapak juga yang mengajari untuk bahasa kromo
inggil ( bahasa jawa halus). Ketika menginjak usia 6 tahun aku didaftarkan
sekolah ke sekolah Madrasah Ibtidaiyah. Dulu dikampungku belum ada sekolah TK
sehingga langsung masuk kelas satu MI yang berlokasikan di Dusun Tanggalan,
Desa Pager Lor, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan.
Awal masuk sekolah masih takut. Belum
bisa beradaptasi degan teman baru. Waktu itu ibu yang sabar menunggu dari awal
sampai pulang sekolah. Lama kelamaan aku bisa beradaptasi dengan teman-teman di
sekolah. Jaman dulu yang ditungu-tungu ketika sekolah adalah bel panjang yang
menandakan waktu pulang sekolah telah tiba.
Serentak seluruh murid di sekolah gemuruh memecah telinga, hiruk pikuk
jadi berdahulu hendak pulang, saling mendesak, saling berteriak kegirangan.
Saat aku kelas dua MI. Setelah
sholat zuhur aku didaftarkan sekolah di Madrasah Diniyah Misbahul Jannah yang
bertempatkan di Banyuripan Dusun Gondosuli Desa Pager Lor. Meskipun satu desa
akan tetapi jaraknya lumayan jauh dari rumah. Untuk menuju ke madrasah harus
jalan kaki. Madrasah itu diasuh oleh Bapak kiyai Teguh Ainul Huda. Madrasah pondok ini lebih dikenal madrasah
banyuripan karena terletak di banyuripan. Bapak dan ibu dulunya juga orang
pesantren dan fanatik pada sekolah pesantren. Saat itu uang spp perbulan seribu
rupiah.
Berangkat ke Madrasah Misbahul Janah
Banyuripan dari rumah sekitar pukul 2.30 bel masuk kelas puku 3.00. Biasanya
sepulangku dari sekolah MI sehabis makan siang dan sholat zuhur ada sedikit
waktu main sama teman-teman, biasanya ngumpul di langgar dekat rumah. Kalau
tidak main sepakbola, main layang-layang atau cari ikan di sungai. Kalau
kelamaan main di cari ibu disuruh pulang. Saat waktu libur saya membantu bapak
cari rumput untuk hewan ternak. Terkadang setelah solat zuhur ibu menyuruh
untuk segera tidur. Dan jam 2.30 ibu membangunkan untuk berangkat ngaji di
Madrasah Misbahul Janah Banyuripan.
Kucium tangan ibu untuk pamitan berangkat ngaji, terkadang ibu ngasih
uang jajan 200 rupiah untuk membeli kripik singkong setiba di Madrasah Misbahul
Jannah. Ibu sering menanamkan pegertian untuk semangat belajar.
Aku mengagumi pak kiyai Teguh pengasuh
Madrasah tersebut, beliau yang sabar mendidik, tidak pernah memarahi murid,
selain beliau terkenal kealimannya beliau juga ahli tirakat. Adapun pekerjaan
sehari-hari beliau adalah menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah dan juga bercocok
tanam di sekitaran ndalem beliau.
Kalau sehabis sholat mahrib diajar
bapak untuk mengaji Al Qur'an di rumah, mengaji dengan bapak paling susah,
sedikit saja bapak membelalak karena aku salah baca, kontan aku gragapan, jadi
serba salah. Rasanya jadi buntu. Mulutku tidak lagi mengeluarkan suara, cuma
air mataku yang membanjiri pipiku. Akan tetapi tidaklama kemudian Bapak biasanya menasehati degan
lembut dan ibu yang menenagkanku.

Komentar
Posting Komentar