Langsung ke konten utama

Gaji sedikit belum tentu kurang, gaji banyak belum tentu cukup

Gaji sedikit belum tentu kurang, gaji banyak belum tentu cukup



Hidup di dunia membutuhkan bekal untuk kelangsungan hidup. Karena manusia hidup membutuhkan asupan makanan dan minuman. Adanya sesuatu dimuka bumi termasuk manusia tentunya ada yang menciptakan, yakni Allah SWT. Sebagai seorang muslim harus menjalankan segala sesuatu yang diperintah-Nya dan juga menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya.

Manusia beribadah membutuhkan sesuatu yang dapat melangsungkan ibadahnya. Misal, kita diperintah untuk melakukan sholat lima waktu. Maka kita membutuhkan pakaian untuk menutup aurat. Saat seorang muslim mencari nafkah harus degan cara yang baik dan benar. Bekerja merupakan ibadah untuk mencari rizki dari Allah SWT, guna untuk memenuhi kebutuhan. Bekerja untuk mendaptkan rizki yang halalan thayiban. 

Mencari rizki harus memperhatikan bagaimana proses kita dalam mencari rizki tersebut. Tentunya degan cara yang baik agar mendapatkan hasil yang baik pula. Andaikata kita seorang bos kita harus memperhatikan hak-hak bawahan. Andaikata kita pekerja, kita juga harus bekerja degan baik, harus menjaga amanah yang telah diberikan oleh sang tuan. Berkerja degan baik,  tidak bermalas-malasan, tidak mengkorupsi waktu jam kerja. Jadi gaji yang kita dapatkan sesuai usaha yang kita lakukan agar mendapatkan keberkahan. Apapun profesi yang kita lakukan harus dilandasi dengan kebaikan. Agar apa yang kita dapatkan menjai keberkahan. 

Ketika seorang bekerja dengan baik dan benar insyaallah akan mendapatkan gaji yang berkah. Dari gaji yang didapatkan, gaji banyak belum tentu cukup. Begitu juga sebaliknya gaji yang sedikit belum tentu kurang. Maka perlu kita selalu bersyukur atas apa yang kita dapatkan. 

Sepertihalnya kisah seorang laki-laki datang kepada Imam safi’i Radiyallahu anhu, mengeluhkan kondisi ekonominya yang begitu sempit. Ia juga menceritakan bahwa ia bekerja sebagai buruh degan upah 5 dirham tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhnya. Lalu Imam Safi’i menasihatinya, agar ia mendatangi majikanya dan memintanya untuk menurunkan gajinya menjadi 4 dirham. Lalu laki-laki itupun mengikuti saran Imam Safi’i. Meskipun ia tidak mengetahui maksud saran tersebut.  

Selang beberapa waktu laki-laki itu datang lagi, ia juga mengeluhkan ekonominya yang masih susah. Lalu Imam Safi’i memberi saran agar mendatangi majikanya dan memintanya untuk mengurangi upah kerjanya menjadi 3 dirham, sebagai ganti dari 4 dirham. Laki-laki itupun pergi melakukan saran Imam Safi’i dengan keheranan karena tidak mengerti maksud saran tersebut. Setelah beberap waktu laki-laki itu datang lagi kepada Imam Safi’i dan mengucapkan terimakasih atas nasehat dan saran yang dulu diberikan kepadanya. Ia mengabarkan ternyata 3 dirham dapat memenuhi semua kebutuhanya dan bahkan setelah itu hartanya menjadi melimpah. Kemudian laki-laki itu bertanya tentang maksud saran dan nasehat Imam Safi’i yang selama ini diberikan. 

Lalu Imam Safi’i menjelaskan, bahwa beliau melihat kerja laki-laki itu kepada majikanya hanya layak diupah 3 dirham sedangkan selebihnya yang 2 dirham telah mencabut keberkahan upah yang diterimanya ketika bercampur degan 3 dirham tersebut.

Gaji sedikit belum tentu tidak cukup. Terkadang gaji yang sedikit bisa mencukupi kebutuhan. Seperti kisah seseorang yang hidup di pedesaan. Ada keluarga yang pekerjaan setiap harinya di kebun juga di sawah. Keluarga itu tediri dari suami, istri dan ada beberapa anaknya. Bapak tersebut seorang petani yang setiap harinya kesawah dan ke lading. Ibunya seorang ibu rumah tangga dan juga membantu suaminya bekerja di sawah. 

Ia hidup rukun meskipun degan perekonomian yang pas-pasan. Setiap harinya bapak itu pergi ke sawah berangkat pagi dengan membawa peralatan pertanian seperti cangkul, karung dan clurit. Selain alat pertanian tidak lupa bapak itu ketika ke sawah membawa sarung, baju, peci dan juga air bersih untuk berwudhu.

  Si istri akan menyusul sang suami ke sawah setelah selesai memasak dan membawakan bekal makanan untuk sarapan di sawah. Sang suami dan istri ketika tiba waktu sholat dhuhur ia sholat berjamaah di gubuk yang berada di sawah. Sebelum pulang dari sawah sang suami yang di bantu sang istri mencari rumput untuk ternak kambingnya. Pulang dari sawah sekitar pukul setegah empat sore.

Meskipun dengan perekonomian yang pas-pasan keluarga tesebut bisa menghantarkan anak-anaknya kuliah di perguruan tinggi negri dan ada juga yang di pondokkan. Seperti yang kita tau biaya pendidikan tidaklah murah apalagi anaknya banyak. Begitulah salah satu kekuasaan Allah SWT, jika dilogika terkadang tidak masuk akal. 

Dari kisah diatas memberikan pelajaran kepada kita. Sehingga saat kita bekerja harus degan kesunguhan agar gaji yang didapatkan sesuai degan usaha yang telah kita lakukan dan semoga mendapatkan keberkahan.  والله سبحانه و تعالى اعلم


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak rugi memiliki mimpi

 Tidak rugi memiliki mimpi Orang yang memiliki mimpi tidaklah rugi. Sebab bermimpi tidaklah memerlukan biaya. Saya teringat dawuh guru saat belajar " bermimpilah pada malam hari dan wujudkan mimpi itu pada siang hari"  Seperti istilah yang tidak asing lagi yang sering kita dengar " Bengi macul langit awan macul bumi" Untuk mewujudkan mimpi tersebut butuh usaha dan upaya serta do'a yang tak pernah padam. Dalam mewujudkan mimpi butuh perjuangan, pengorbanan dan tidak luput dari halangan dan rintangan. Mungkin kita harus meningalkan tanah kelahiran kita untuk sementara waktu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagaimana yang penah didawuhkan oleh imam Syafi'i " Tiada kata diam dan santai bagi orang yang berakal dan beradab. Maka tinggalkan kampung halaman dan merantaulah".  Seperti halnya jika air tidak mengalir dan mengenang terlalu lama maka air tersebut akan kotor dan berbau tidak enak. Air akan menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika tid...

Bekerja, beribadah dan istirahat

 Bekerja, beribadah dan istirahat Setiap manusia mendambakan hidup yang bahagia, hidup yang berkah dan hidup yang memberikan kemanfaatan yang baik. Mencari kebahagiaan di dunia mapun kebahagiaan di akhirat nanti. Terkadang kita sampai lupa mencari kebahagiaan dunia sampai melupakan kebahagiaan di akhirat. Sebagai contoh siang malam bekerja mencari uang untuk membeli mobil mewah, membagun rumah yang mengah sampai lupa meninggalkan kewajiban sholat lima waktu. Terkadang juga sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri. Maka perlunya keseimbangan antara beribadah bekerja dan istirahat untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Saya teringat dawuh guru yang mengutip dari kitab karya imam al Ghozali. Yang berisi tentang pentingnya membagi waktu yang seimbang antara bekerja beribadah dan istirahat. Sebab istirahat juga penting untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat beribadah dan bekerja dengan baik. Selain itu sang guru juga menjelaskan bahwasanya di negar...

Sibuk kebaikan

Waktu memiliki sifat cepat dan tajam yang jika tidak digunakan untuk kebaikan, akan menebas atau memotong penggunanya. Yaitu membawa kerugian atau penyesalan dikemudian hari. Maka peting sekali kita mengunakan waktu kita untuk perbuatan yang baik. Jangan digunakan untuk perbuatan kemaksiatan  agar kita tidak menyesal dikemudian hari. Dawuh ibu nyai siti saudah, " Lakukanlah amalan wajib dan tambahkanlah amalan-amalan sunah, karena amalan-amalan sunah dapat menambal amalan-amalan yang belum sempurna" Jika setiap hari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kecil maupun besar tingkatan iman akan bertambah. Setiap amal sholeh baik perkataan maupun perbuatan, baik amal hati maupun amal jasad pasti akan menambah keimanan. Dan keimanan akan bertambah dengan adanya ketaatan kepada Allah SWT dan kemaksiatan akan berkurang. Seperti halnya jika kita hanya duduk sendirian dan melamun fikiran tidak berkembang dan cenderung ke negatif maka perlu diri...