Langsung ke konten utama

Mengukur Diri Kepada Orang Yang Lebih Rendah

Mengukur Diri Kepada Orang Yang Lebih Rendah



Jam dinding terus berputar, itu menandakan waktu terus berjalan. Umur manusia selalu bertambah yang semula muda dengan bertambahnya umur maka akan berubah menjadi tua. Tuhan sudah memberikan tanda-tandanya. Seperti rambut mulai memutih, tenaga semakin berkurang, kulit mulai keriput. Maka jatah hidup di dunia semakin berkurang dengan bertambahnya usia.

Dengan bertambahnya usia. Seyongyanya kita lebih meningkatkan dalam hal keimanan, ketaqwaan dan berusaha untuk menambah dalam melakukan kebaikan. karena apa? kita bisa beramal yaitu ketika kita masih berada di dunia. Jika kita sudah berada di liaglahat kita tidak bisa lagi melakukan kegiatan-kegiatan seperti halnya ketika kita masih berada di dunia. kehidupan akhirat adalah tempat kita menuai selama kita hidup di dunia.

kita harus sering sering bersyukur kepada Allah SWT atas segala rahmat yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana cara kita agar selalu bersyukur kepada Allah dan tidak mengangap remeh atas rahmatnya Allah?. Yaitu dengan kita memandang orang yang berada di bawah kita dalam hal dunia. dengan senantiasa memandang orang yang berada di bawah kita maka kita bisa bersyukur dan tidak mengangap remeh atas rahmat yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Rasulullah SAW, bersabda. Yang artinya: Pandanglah orang yang lebih rendah daripadamu, jangan memandang kepada orang yang lebih tinggi dari padamu karena yang demikian itu adalah lebih baik, agar kamu jangan mengangap kecil ni’mat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. ( HR. Bukhori dan Muslim )

Coba kita amati banyak orang-orang diluar sana yang kelaparan. Terkadang mau membeli makan saja tidak ada. Ia memunguti sisa-sisa makanan di tempat sampah untuk menyambung hidupnya. Betapa beruntungnya kita atas rahmat Allah kita diberikan kesehatan, diberikan rezeki yang cukup maka kita harus bersyukur.  Kita harus selalu merasa cukup dengan yang kita miliki saat ini. Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih.

Mengukur diri kita dengan mengamati orang yang dibawah kita dalam hal materi dunia  agar kita merasa cukup dan selalu bersyukur. Sehingga kita merasa cukup dan bisa bersyukur, alhamdulillah ya Allah atas kenikmatan-kenikmata yang telah engkau berikan kepadaku. sehingga tidak menganggap remeh atas semua karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. akan tetapi jika kita memandang orang yang diatas kita dalam hal duniawi maka akan timbul ketidak puasan pada diri. Dan  yang berbahaya itu jika akan timbul rasa iri dan dengki dalam hati.

Dalam masalah agama dan amal sholeh agar kita memandang orang yang berada diatas kita. karena dengan kita memandang orang yang di atas kita. Maka kita merasa bahwa diri kita ini masih kurang baik. dengan demikian kita akan melakukan suatu kebaikan yang lebih. Misalnya dalam hal beribadah dan amal sholeh. Kita mengamati teman kita yang memiliki perilaku yang baik, taat beragama, selalu menolong orang lain, tidak melakukan kemaksiatan. Dengan kita memandang orang di atas kita, maka kita akan berusaha melakukan yang lebih baik untuk bekal di akhirat nanti. Mari berlomba-lomba dalam hal kebaikan agar kita dijadikan hamba yang selama di dunia maupun selamat di akhirat. Aamiin  

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak rugi memiliki mimpi

 Tidak rugi memiliki mimpi Orang yang memiliki mimpi tidaklah rugi. Sebab bermimpi tidaklah memerlukan biaya. Saya teringat dawuh guru saat belajar " bermimpilah pada malam hari dan wujudkan mimpi itu pada siang hari"  Seperti istilah yang tidak asing lagi yang sering kita dengar " Bengi macul langit awan macul bumi" Untuk mewujudkan mimpi tersebut butuh usaha dan upaya serta do'a yang tak pernah padam. Dalam mewujudkan mimpi butuh perjuangan, pengorbanan dan tidak luput dari halangan dan rintangan. Mungkin kita harus meningalkan tanah kelahiran kita untuk sementara waktu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagaimana yang penah didawuhkan oleh imam Syafi'i " Tiada kata diam dan santai bagi orang yang berakal dan beradab. Maka tinggalkan kampung halaman dan merantaulah".  Seperti halnya jika air tidak mengalir dan mengenang terlalu lama maka air tersebut akan kotor dan berbau tidak enak. Air akan menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika tid...

Bekerja, beribadah dan istirahat

 Bekerja, beribadah dan istirahat Setiap manusia mendambakan hidup yang bahagia, hidup yang berkah dan hidup yang memberikan kemanfaatan yang baik. Mencari kebahagiaan di dunia mapun kebahagiaan di akhirat nanti. Terkadang kita sampai lupa mencari kebahagiaan dunia sampai melupakan kebahagiaan di akhirat. Sebagai contoh siang malam bekerja mencari uang untuk membeli mobil mewah, membagun rumah yang mengah sampai lupa meninggalkan kewajiban sholat lima waktu. Terkadang juga sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri. Maka perlunya keseimbangan antara beribadah bekerja dan istirahat untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Saya teringat dawuh guru yang mengutip dari kitab karya imam al Ghozali. Yang berisi tentang pentingnya membagi waktu yang seimbang antara bekerja beribadah dan istirahat. Sebab istirahat juga penting untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat beribadah dan bekerja dengan baik. Selain itu sang guru juga menjelaskan bahwasanya di negar...

Sibuk kebaikan

Waktu memiliki sifat cepat dan tajam yang jika tidak digunakan untuk kebaikan, akan menebas atau memotong penggunanya. Yaitu membawa kerugian atau penyesalan dikemudian hari. Maka peting sekali kita mengunakan waktu kita untuk perbuatan yang baik. Jangan digunakan untuk perbuatan kemaksiatan  agar kita tidak menyesal dikemudian hari. Dawuh ibu nyai siti saudah, " Lakukanlah amalan wajib dan tambahkanlah amalan-amalan sunah, karena amalan-amalan sunah dapat menambal amalan-amalan yang belum sempurna" Jika setiap hari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kecil maupun besar tingkatan iman akan bertambah. Setiap amal sholeh baik perkataan maupun perbuatan, baik amal hati maupun amal jasad pasti akan menambah keimanan. Dan keimanan akan bertambah dengan adanya ketaatan kepada Allah SWT dan kemaksiatan akan berkurang. Seperti halnya jika kita hanya duduk sendirian dan melamun fikiran tidak berkembang dan cenderung ke negatif maka perlu diri...