Menabung
untuk bekal beribadah
Didalam agama islam di larang untuk berperilaku boros, berfoya-foya atau menghambur hamburkan uang yang kurang bermanfaat.
Ketika kita semasa kecil tiap kali berangkat sekolah
mendapatkan uang saku dari ibu, uang saku tersebut kita manfaatkan untuk bekal
mencari ilmu. Mulai dari membayar transportasi untuk naik angkot dan membeli
makanan dikantin sekolah ketika jam istirahat. Uang saku yang telah diberikan
orang tua kepada kita bila ketika jajan hendaknya secukupnya tidak membeli
jajan yang berlebihan apabila ada sisa bisa ditabung.
Begitujuga dengan orang dewasa yang sudah bekerja
dan sudah memiliki penghasilan. Jika dari usaha yang ia jalankan memiliki
keuntungan alangkah baiknya sebagian dari keuntungan tersebut ditabung dan
sebagian lagi untuk modal mengembangkan usahanya. Kita tidak mengetahui hari
esok apa yang akan terjadi. Dalam dunia usaha ada pasang surut. Apabila dalam
suatu hari mengalami musibah yang menyebabkan usaha menurun dengan tabungan
yang ada kita bisa membangun usaha dan mengunakan modal untuk memulai usaha
lagi.
Begitu juga orang yang memiliki gaji bulanan. Kita
gunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang sifatnya primer. Alangkah baiknya
menyisihkan untuk ditabung terkadang ada kebutuhan yang mendadak sehingga
membutuhkan biaya yang harus ada pada saat itu. Seperti halnya kita sakit perlu
obat untuk menyembuhkan penyakit maka saat itu kita perlu uang untuk membeli
obat. ketika kita memiliki tabungan
walaupun sedikit jika butuh sewaktu-waktu kita dapat mengambilnya.
ketika kita berlaku hemat bukan berarti kita pelit.
Akan tetapi lebih tepatnya membelanjakan finansial dengan secukupnya dan memiliki
manfaat. Akan tetapi selalu berusahalah menjadi orang yang dermawan dan gemar
bersedekah kepada orang yang lebih membutuhkan. Manfaatkanlah waktu mudamu sebelum datang masa
tuamu, manfaatkanlah masa sehatmu sebelum masa sakitmu, manfaatkanlah masa
kayamu sebelum masa susahmu.
Saya teringat dawuh bu Nyai ketika mengaji kitab
tafsir jalalain biasanya beliau membacakan kitab dan menjelaskan dari isi
pembahasan tersebut. Beliau menjelaskan kisah nabi yusuf yang menafsirkan
mimpinya raja mesir. Suatu ketika raja Mesir bermimpi melihat tujuh sapi kurus-kurus
kemudian juga melihat tujuh sapi yang besar-besar.
Kemudian raja Mesir tersebut mengalami kegelisahan
dengan mimpinya. Seakan mimpi itu menjadi kenyataan. Kemudian raja Mesir
tersebut mengutus penasihatnya untuk menafsirkan mimpi tersebut. Penasehatnyapun
tidak bisa menafsirkan mimpi raja tersebut. Kemudian raja mengutus untuk
mencari orang menafsirkan mimpinya. Banyak yang datang kepada raja untuk
menafsirkan mimpinya tersebut. Ada yang menafsirkan itu hanya bungga tidur ada
juga yang mengatakan itu mimpi biasa. Rajapun tidak puas atas jawaban-jawaban
yang diberikan oleh para ahli tafsir mimpi kala itu.
Kemudian raja memangil nabi Yusuf, nabi Yusufpun
menjelaskan kepada raja bahwa maksud sapi besar besar pada mimpi itu bahwa
negara Mesir akan mengalami penghasilan perekonomian yang lebih banyak dua kali
lipat dari biasanya selama tujuh tahun. Dan tujuh sapi kurus-kurus itu bahwa negara
mesir akan mengalami paceklik dan tidak ada penghasilan selama tujuh tahun
lamanya. Kemudian raja mengangkat nabi Yusuf sebagai kepala gudang lumbung
pangan.
Yang dilakukan nabi Yusuf ialah menabung sebagian
hasil perekonomian yang melimpah ruah selama tujuh tahun itu. Untuk persediaan
tujutahun kedepaan yang menyebabkan negara Mesir mengalami paceklik yang
panjang selama tujuh tahun. Ternyata benar tujuh tahun Mesir mengalami
penghasilan dua kali lipat dari pada biasanya dan tujuh tahun lagi mengalami
paceklik. Kerena nabi yusuf menabung di lumbung pangan maka negara Mesir
selamat atas paceklik yang menimpa selama tujuh tahun lamanya.
Allah SWT berfirman: dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada
Rabbnya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
Demikian salah satu manfaat menabung. Bisa digunakan
untuk kebutuhan dan keperluan yang akan datang. Sedangkan kita tidak tahu hari
esok apa yang akan terjadi. Tugas kita adalah berdoa, berusaha dan tawwakal
atas usaha yang kita lakukan.
Tulungagung,
05 maret 2021
,

Komentar
Posting Komentar