Apapun
keadaanya tetap mencari ilmu
(Meneladani
kisah Syeh Abdul Qodir Al Jailani)
Rasulullah SAW mewajibkan kepada
semua muslim laki-laki dan perempuan untuk mencari ilmu. Karena dengan adanya
ilmu maka bisa membedakan antara yang khaq dan yang batil, yang benar dan yang
salah. Untuk melakukan segala sesuatu harus dilandasi dengan ilmu.
Diawal tahun 2021 masyarakat Indonesia
mengalami beberapa ujian. Seperti halnya tanah longsor, banjir, jatuhnya
pesawat sriwijaya R, eroksi gunung merapi dan diawal tahun ini banyaknya ulama'
yang meninggal dunia serta wabah virus corona yang masih membuat resah warga.
Dengan adanya ujian semoga kita senantiasa diberikan kesabaran dan diberi
ketetapan iman, islam. Seperti halnya seorang siswa ketika belajar di bangku
sekolah ketika akan dinaikan ke jenjang selanjutnya pasti diadakan ujian. Begitu
juga dengan manusia ketika menghadapi cobaan dan masalah dihadapi dengan
kesabaran, keikhlasan dan ketabahan semoga Allah menaikan derajat bagi hamba-hambanya
yang sabar. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya.
Meskipun masa-masa seperti ini
dengan adanya cobaan maka harus tetap mencari ilmu. Karena mencari ilmu itu hukumnya
wajib bagi setiap muslim. Dimanapun berada dan kapanpun, jadikanlah tempat
mencari ilmu. Banyak cara mencari ilmu meskipun pada saat pandemi seperti ini
banyak pembelajaran yang dilakukan secara onlen kita harus tetap belajar.
Berbagai cara dalam mencari ilmu mulai dari
membaca buku, membaca kitab kuning, mendengarkan pengajian, mengikuti seminar secara
onlen, mengamati gejala disekitar kita bahkan mengamati tingkahlaku orang lain
yang sekiranya baik untuk diteladani. Misalnya sering kita jumpai ada orang
yang rajin beribada, perilakunya yang baik, tutur kata yang sopan, semangat
dalam mencari ilmu, semangat dalam bekerja hal-hal yang disekitar kita mari
kita gunakan untuk contoh dan meneladaninya.
Apapun kondisi kita mari kita
mencari ilmu, saya teringat dawuh guru saat ngaji kitab ta’limul muta’alim
bahwa syarat mencari ilmu itu ada enam salah satunya bekal, apabila sudah ada
bekal meskipun sedikit jagan dijadikan alasan untuk tidak mencari ilmu, asalkan
ada niat dan sunguh-sunguh Allah akan memudahkan hambanya. Saya teringat dawuh
guru: santri kabeh neg pondok kudu
tenana, kudu gelem rekoso, gelem prehaten, khasile wong golek ilmu kui seukuran
karo rekosone.
Seperti kisah Syekh Abdul Qodir Al Jailani yaitu
Syekh Thareqat. Yang manaqibnya dibaca dimana-mna termasuk di Indonesia.
Seperti kisahnya ketika beliau mencari ilmu di Baghdad. Saat itu di baghdad
mengalami paceklik sehingga harga makanan melambung tinggi yang menyebabkan
beliau tidak makan berhari-hari. Bahkan beliau mencari makanan-makanan sisa
yang sudah dibuang untuk beliau makan.
Syekh Abdul Qodir Al Jailanai mengatakan;
makanan pokokku adalah seledri berduri, sisa-sisa sayur-sayuran, daun-daunan
yang murah yang ada di sungai. Paceklik meyebabkan harga-harga melambung tinggi
di bagdad sampai menyebabkan aku berhari-hari tidak makan. Bahkan aku mencari
makanan-makanan sisa yang sudah di buang untuk aku makan. Pada suatu hari
karena kelaparan yang teramat sangat sehingga aku keluar rumah dengan
mendapatkan sisa sisa dedaunan ataupun
sayuran untuk aku makan. Ketika aku pergi kesuatu tempat ternyata disana sudah ada orang lain yang memunguti sisa sisa
makanan sehingga aku mengalah mengharapkan pahala.
Lalu aku pulang dengan berjalan
kaki di tenggah negri. Setiap aku mendapatkan sesuatu yang dibuang ternyata
sudah didahului orang lain sehingga aku sampai masjid yasin di pasar ar
rayyahin di bagdad. Aku merasa sudah tidak mampu lalu aku mencoba masuk dan
duduk disebelah masjid. Hampir kematian menjemputku.
Tiba-tiba ada seorang pemuda yang
masuk dan membawa roti. Setiap pemuda mengangkat tanganya untuk memasukkan
suapan kemulutnya, mulutku ikut berbuka karena rasa lapar yang teramat sangat. Dalam
hatiku berkata, disini tidak ada selain pertolongan Allah atau allah
menakdirkan kematian bagiku.
Tiba-tiba pemuda tersebut menengok
kearahku, lalu ia berkata wahai saudaraku makanlah. Aku lalu menolaknya. Dia
lalu bersumpah lalu sehingga aku menerimanya dan aku memakan tapi tidak nyaman.
Dia berkata kepadaku. Apa pekerjaanmu? Kamu darimana? Siapa nama pangilanmu?
Aku berkata, aku pelajar fikih dari Jailan. Dia berkata aku juga dari jailan.
Apakah engkau mengenal pemuda dari jailan yang bernama Abdul Qodir. Dia adalah
cucu dari Abdullah Ash-Shauma’i seorang yang zuhud? Aku menjawab. Akulah orangnya.
Pemuda itu kaget dan mukanya
berubah. Dia berkata, demi Allah, aku sampai ke baghdad dan membawa sisia sisa
bekal untukkku, kemudian aku bertanya tentang keberadaamu, tetapi tidakada yang
dapat menunjukkannnya kepadaku. Bekalku sudah habiS dan selama tiga hari aku
tidak memiliki uang untuk membeli makanan kecuali uang titipn untukmu. Bagkai
sudah halal bagiku. Aku lalu memakai uang titipan untukmu kemudian aku belikan
roti dan makanan pangang ini maka makanlah dengan senang hati.
Ini semua tidak lain untumu
sedangkan aku sekarng menjadi tamumu setelah sebelumnya kamu menjadi tamuku.
Aku berkata kepadanya, apa ini
titipan untukku? Dia menjawab. Ibumu mengirimkan untukkumu uang sejumlah
delapan dinar. Uang itu aku bawa kemudian aku belikan makanan karena sangat
terpaksa. Aku sungguh minta maaf kepadamu. Aku merasa tenang dan jiwaku merasa
tentram. Aku lalu memberikan kepadanya makannan yang tersisa dan sedikit emas
sebagai nafkah untuknya. Dia menerimanya lalu beranjak pergi.
Mari kita meneladani ulama’
terdahulu dalam mencari ilmu.

Komentar
Posting Komentar