Mengabadikan
kejadian dengan tulisan agar tidak hilang
Matahari sudah terbenam
menandakan hari mulai malam, burung-burung berterbangan kesana kemari untuk kembali
kerumah mereka, ayam-ayam juga kembali kekandang setelah seharian mencari makan,
adzan mahrib sudah berkumandang masyarakat berjalan beriringan pergi ke masjid untuk
sholat mahrib berjamaah.
Alhamdulillah, Allah SWT, masih meberikan kesehatan, sehingga bertepat pada hari rabu malam kamis saya mengikuti pengajian
kitab ta'limul muta'alim karangan syek az zarnuzi, di dalam pengajian kitab
tersebut dijelaskan bahwa seorang murid atau santri tidak akan memperoleh ilmu
dan kemanfaatanya apabila ia tidak memuliakan ilmu, memuliakan ahli ilmu dan
memuliakan guru.
Salah satu memuliakan
ilmu ialah ketika belajar dan setiap membuka pelajaran harus dalam keadaan suci
selain itu cara memuliakan ilmu ialah saat mencatat ilmu atau menulis suatu
ilmu hendaknya yang rapi, jangan terlalu kecil-kecil agar ketika sudah tiba
saatnya tua dengan kita mencatat setiap ilmu yang kita dapatkan kita bisa
mempelajari kembali.
Sebab dengan kita
mencatat setiap ilmu yang kita dengar dari guru atau kita dapat dari orang lain
tidak akan mudah hilang. Sebab ingatan seseorang itu ada batasanya apalagi dengan
bertambahnya umur kita, dengan mencatat jika dikemudian hari kita lupa kita
bisa membuka catatat kita lagi.
Dengan seiringnya
berkembangnya zaman cukup mudah untuk mencatat setiap ilmu pengetahuan dan
suatu kejadian dengan buku dan polpen bahkan sekarang dengan mudahnya mencatat dengan
memanfaatkan media yang ada seperti handphone maupun laptop.
seyogyanya kita harus bersyukur karena zaman sekarang
lebih mudah dalam mencatat atau menulis pelajaran, saya teringat cerita kakek
saya dulu, beliau bercerita begini, jaman ku sekolah biyen ora eneng buku
koyo bocah saiki nang, lek biyen bukune kui sabak, lek gurune jelas khe di
tulis bar kui diapal nhe, lek wes apal di gosok, bar mulih sekolah lek biyen
langsung garet angon wedos mulane lek sekolah le golek ilmu seng tenanan.
Dari
cerita kakek saya dulu ternyata hidup pada zaman dahulu susah, alat tulisnya
saja sabak, dan tulisan itu harus dihapus Ketika pergantian pelajaran atau Ketika
masuk sekolah keesokan harinya, dari informasi yang saya dapat bahwa sabak itu
terbuat dari lempengan batu karbon yang berbentuk persegi empat, dan ukuranya
tidak begitu besar dan tidak begitu kecil.
Dengan
adanya media yang memudahkan kita dalam mencatat setiap ilmu pengetahuan dan
kejadian seperti adanya bloger dan menulis di blonger maka akan aman dan
tulisan bisa di edit mulai dari jenis hurufnya, ukuran tulisan, spasi dalam menulis
dan lainya maka tulisan akan rapi agar memudahkan dalam membacanya.
Saat ngaji tersebut guru menjelaskan
dari pembahasan tersebut yakni termasuk juga memuliakan ilmu yakni menulis
kitab dengan tulisan yang baik, jagan sampai tulisan itu kecil kecil akan
tetapi hendaknya dengan tulisan yang jelas dan terang, Imam Abu Hanifah pernah
melihat orang menulis dengan tulisan yang lembut dan kecil kecil sebab kalau kamu
masih hidup nanti kamu akan rugi dan kalau kamu sudah mati pasti kau akan di caci
artinya jika catatan dibaca oleh anak turumu maupun orang lain, jika kamu
berumur Panjang sampai tua sedang penglihatanmu sudah berkurang tentu akan rugi
denga tulisan yang terlalu kecil.
Selain itu menjelaskan
bahwa Adapun cara memperoleh faedah adalah agar setiap ada waktu dan kesempatan
selalu membawa alat tulis pulpen dan kertas untuk mencatat segala yang di
dengar yang berhubungan dengan faidah ilmu, dikatakan barang siapa yang hafal
sesuatu, maka kadang kadang bisa terjadi lupa akan tetapi jika faedah itu di
catat tentu tetap dan tidak akan lupa.
Beberapa hari lalu saya
membuka buku catatan saya yang menumpuk di dalam kardus dan membuka buku
catatan sewaktu masih belajar di Madrasah Ibtidaiyah sambil tersenyum dengan bentuk
tulisan yang tidak beraturan, tapi sayang ada Sebagian tulisan yang tidak bisa
dibaca sebab tulisan mulai memudar dan tidak begitu jelas.
Saat saya juga membuka
laptop dan mendapati beberapa foto lama, dan saya lupa foto Ketika dimana, dalam
acara apa, bahkan foto kapan. saya tertarik dengan buku karya bapak Dr. Ngainun
Naim dengan judul Literasi Dari Brunai Darussalam, dalam buku tersebut
ditampilkan dengan foto dan cerita dari setiap perjalanan dan hal-hal yang
menarik mulai dari kesan, perjalanan, dan hikmah dalam kehidupan, sehingga pembaca
akan lebih mudah memahami dengan adanya gambar tersebut, dan memotifasi untuk
pembaca, meskipun pembaca belum pernah ke brunaidarussalam akan tetapi bisa
sedikit melihat, sebab buku adalah candela dunia.
Mungkin
dalam hidup kita banyak pengalaman dan pelajaran yang perlu diabadikan dengan
tulisan dan diwariskan pada keturunan sebagai contoh keteladanan dan motifasi
dalam kehidupan.

Keren Bapak Alif catatannya. :)
BalasHapusTrimakasih bu, masih belajar
HapusMantab bapak Alif...
BalasHapusTrimakasih pak.. semoga seperti panjenegan ahli dalam literasi
HapusTulisan yg keren. Mengingatkan kita betapa pentingnya menghormati ilmu.
BalasHapusTapi ada masukan dari saya. Mohon disetiap paragraf diperhatikan tanda titiknya. Lebih baik komanya diganti titik.
Trimakasih pak atas masukan dan arahanya, lek boten di ingatkan kadose kulo supe.
HapusLain kali mohon masukan dan koreksinya lagi geh pak.....