Langsung ke konten utama

(GeDeQu Ba’NiLa) Gerakan Baru yang di Adakan Oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mbah Dul Plosokandang, Kedungwaru, Tulungagung

 

(GeDeQu Ba’NiLa) Gerakan Baru yang di Adakan Oleh Pengasuh Pondok Pesantren

Mbah Dul Plosokandang, Kedungwaru, Tulungagung

 

Pondok pesantren berperan penting dalam dunia pendidikan. Apalagi dimusim pademi covid 19 yang sampai detik ini masih di isukan keberadaanya, dengan adanya wabah virus corona pendidikan mengalami permasalahan, dengan adanya wabah virus corona pembelajaran di sekolah digantikan dengan pembelajaran secara onlen.

Sebagian orang tua mengeluhkan bahwa Pembelajaran onlen menambah beban seperti harus membelikan paket data untuk pembelajaran onlen, selain itu sebagian wilayah ada yang akses internetnya masih sulit, saat saya pulang kekampung halaman tepatnya setelah sholat idul adha 1441 H kemarin. Perjalanan dari kabupaten Tulungagung ke kabupaten Pacitan, dengan perjalannn yang lumayan jauh saya memutuskan istirahat sebentar tepatnya di desa ngerdani kab Trenggalek.

Saat saya istirahat dan membuka hp. Ternya tidak ada jaringan sama sekali, hal demikian lah kelemahan pembelajaran secara onlen yang menambah beban orang tua, dan mengakses jaringan internet masih sulit, Ketika saya berbincang dengan warga sekitar Alhamdulillah ada warga yang sudah memasang wifi sehingga bisa membantu para peserta didik untuk pembelajaran secara onlen.

Allhamdulillah, dari berita yang saya dengar dari radio beberapa pondok sudah mulai aktif, khususunya pondok pesantren di Jawa Timur. Akan tetapi pemulangan santri ke pondok pesantren tetap melalukan protokol kesehatan. Pemulanagan santri ke pondok teruntuk pondok pesantren yang memiliki ribuan santri dengan pemulanag secara bertahap.

Pondok pondok pesantren sangat hati hati dan waspada terhadap penyebaran virus corona. dan bagi santri yang kembali kepondok harus cek kesehatan, dan membawa bukti surat kesehatan setelah sampai di pondok harus di karantina selama 14 hari.

Pondok Pesantren Mbah Dul sudah mulai mengakfifkan proses kegiatan belajar mengajar. tepatnya pada hari senin 13 Juli 2020 Pengasuh Pondok Pesantren Mbh Dul, KH Abdul Kholik membuat suatu gerakan dengan diberinama gerakan gedequ ba’nila yakni Gerakan Deres Qur'an Ba'da Nisfu Lail, dalam pembentukan ini seluruh santri putra di kumpulkan di srambi masjid, setelah kegiatan pembacaan sholawat nariyah bersama, setelah kegiatan ini selesai pengasuh pondok langsung mengintruksikan kepada seluruh santri untuk di bentuk kelompok setiap kelompok berangotakan 5 atau 6 santri.

Setelah kelompok sudah terbentuk maka di bentuk ketua kelompok yang bertugaskan untuk menggondisikan setiap anggota kelompoknya, dan di catat. Abah yai juga dawuh bahwasanya santri kudu deres Al Qur’an. Beliau juga menceritakan kisah Mbh Kh Munawwir Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

KH. Munawwir  ahli dalam qira’ah sab’ah (  bacaan Al-Qur’an) dan salah satunya adalah Qiro’ah Imam ‘Ashim Riwayat Imam Hafsh dan sanad Qira’ah Imam ‘Ashim Riwayat Hafsh sampai kepada nabi Muhammad SAW, beliau KH Munawwir tidak hanya belajar qira’ah ( bacaan) dan menghafal Al-Qur’an tetapi tetapi juga ilmu ilmu lain.

Pernah pada suatu perjalanan dari mekah ke Madinah tepatnya di Rabigh beliau berjumpa dengan orang tua yang tidak di kenal beliau. pak tua lantas mengajak berjabat tanggan. Menurut KH. Arwani amin Kudus orang tua itu adalah Nabiyullah Khidhir As.

Abah khloliq juga menceritakan bahwa beliau (KH Munawwir ) menekuni Al Al-Qur’an dengan riyadhah, yakni sekali khtam dalam   tujuh hari tujuh malam selama tiga tahun, lalu sekali khatam dalam tiga hari tiga malam selama tiga tahun, lalu sekali khatam dalam sehari semalam selama tiga tahun, dan terakhir adalah riyadhah membaca Al-Qur’an selama 40 hari tanpa henti hingga mulut beliau berdarah karenanya.

Setelah 21 tahun menimba ilmu ditanah suci beliaupun Kembali kekediaman beliau di kauman Yogyakarta. Itulah yang diceritakan oleh pengasuh dan kegiatan deres Qur’an Ba’da Nisfu Lail Dimulai Pada Hari Rabu.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak rugi memiliki mimpi

 Tidak rugi memiliki mimpi Orang yang memiliki mimpi tidaklah rugi. Sebab bermimpi tidaklah memerlukan biaya. Saya teringat dawuh guru saat belajar " bermimpilah pada malam hari dan wujudkan mimpi itu pada siang hari"  Seperti istilah yang tidak asing lagi yang sering kita dengar " Bengi macul langit awan macul bumi" Untuk mewujudkan mimpi tersebut butuh usaha dan upaya serta do'a yang tak pernah padam. Dalam mewujudkan mimpi butuh perjuangan, pengorbanan dan tidak luput dari halangan dan rintangan. Mungkin kita harus meningalkan tanah kelahiran kita untuk sementara waktu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagaimana yang penah didawuhkan oleh imam Syafi'i " Tiada kata diam dan santai bagi orang yang berakal dan beradab. Maka tinggalkan kampung halaman dan merantaulah".  Seperti halnya jika air tidak mengalir dan mengenang terlalu lama maka air tersebut akan kotor dan berbau tidak enak. Air akan menjadi baik jika mengalir, dan menjadi buruk jika tid...

Bekerja, beribadah dan istirahat

 Bekerja, beribadah dan istirahat Setiap manusia mendambakan hidup yang bahagia, hidup yang berkah dan hidup yang memberikan kemanfaatan yang baik. Mencari kebahagiaan di dunia mapun kebahagiaan di akhirat nanti. Terkadang kita sampai lupa mencari kebahagiaan dunia sampai melupakan kebahagiaan di akhirat. Sebagai contoh siang malam bekerja mencari uang untuk membeli mobil mewah, membagun rumah yang mengah sampai lupa meninggalkan kewajiban sholat lima waktu. Terkadang juga sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri. Maka perlunya keseimbangan antara beribadah bekerja dan istirahat untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Saya teringat dawuh guru yang mengutip dari kitab karya imam al Ghozali. Yang berisi tentang pentingnya membagi waktu yang seimbang antara bekerja beribadah dan istirahat. Sebab istirahat juga penting untuk menjaga kesehatan fisik agar dapat beribadah dan bekerja dengan baik. Selain itu sang guru juga menjelaskan bahwasanya di negar...

Sibuk kebaikan

Waktu memiliki sifat cepat dan tajam yang jika tidak digunakan untuk kebaikan, akan menebas atau memotong penggunanya. Yaitu membawa kerugian atau penyesalan dikemudian hari. Maka peting sekali kita mengunakan waktu kita untuk perbuatan yang baik. Jangan digunakan untuk perbuatan kemaksiatan  agar kita tidak menyesal dikemudian hari. Dawuh ibu nyai siti saudah, " Lakukanlah amalan wajib dan tambahkanlah amalan-amalan sunah, karena amalan-amalan sunah dapat menambal amalan-amalan yang belum sempurna" Jika setiap hari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kecil maupun besar tingkatan iman akan bertambah. Setiap amal sholeh baik perkataan maupun perbuatan, baik amal hati maupun amal jasad pasti akan menambah keimanan. Dan keimanan akan bertambah dengan adanya ketaatan kepada Allah SWT dan kemaksiatan akan berkurang. Seperti halnya jika kita hanya duduk sendirian dan melamun fikiran tidak berkembang dan cenderung ke negatif maka perlu diri...