Yang lain pulang kami hanya memandang ( 1 syawal 1441 H/ Mei 2020 M)
Adanya wabah virus corona menjadikan masyarakat gelisah,
yang jauh dari orang tua, jauh dari keluarga yang dalam perantauan tidak bisa
pulang tidak bisa kumpul dengan keluarga di hari raya idul fitri tahun ini,
berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebelum adanya wabah virus corona saya telah
merencanakan untuk pulang ketika menjelang lebaran ternyata tidak bisa pulang
ke kampung halaman.
Saat takbir berkumandang saya teringat di rumah teringat
emak, bapak dan adek. Biasanya sebelum datangnya lebaran saya membantu
emak membuat jajan, mengoreng krupuk buat makanan, membersihkan toples untuk
tempat jajan, maklum pekejaan yang demikian harus saya kerjakan karena saya dua
bersaudara laki-laki semua saya dan adek saya riski, selain itu kadang juga
membantu bapak mengecat temboh, ngepel lantai, menjelang lebaran pasti ada saja
aktifitas dirumah, untuk memulyakan tamu yang berdatangan saat lebaran.
Setelah selesai bersih bersih, saya menyetrika pakaian
emak, bapak termasuk pakaian saya dan adek. ketika saya tidah pulang pasti emak dan
bapak yang akan mengerjakan semuanya dari mulai membuat jajan, bersih-bersih,
masak, menyetrika pakaian sebab adekpun masih kecil masih suka bermain.
Berbeda dengan tahun ini lebaran tidak bisa pulang, tidak
bisa berjabat tangan, tidak bisa sungkem dengan orang tua. Tiba malam hari
setelah selesai jamaah sholat isya’ saya duduk santai di samping pondok dibawah
pohon manga yang biasanya buat nongkrong teman-teman, akan tetapi tempat ini
tidak ada siapa siapa karena sudah banyak yang pulang. Ditempat ini saya sambil
merokok sambil mendengarkan takbiran, Allahu akbar Allahu akbar Allahu
akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allahu akbar walillaahil hamd. yang
berkumandang di setiap mushola dan masjid, tidak lama kemudian adek telvon,
Adek
: ora mantuk smpean?
Saya
: dereng retos, mamak teng pundi?
Adek
: ( adekpun tidak lngsung menjawab pertanyaanku, malah balik bertanya)
kapan lehmu mantuk?
Saya
: dereng retos iki dek, hp nhe sukaknho mamak tak jagong kleh mamak dek.
Tak lama kemudian emak yang bertanya, ra
sido mntuk nang, ?
Saya
: kadose dereng mak, taseh nopo jenegan
Emak
: iya, penting ngati-ati, ngadahi jajan iki lho…
Saya
: egeh mak,
tak terasa mataku sedikit berlinang, memdengar suara
emak.
Emek
juga bercerita dan bertanya sudah makan apa belum, dan seterusnya. Saya balik
bertanya pada emek, bapak tengpundi niki wau?
Emak
: Bapakmu neng langar, wes tak zakati neng gomah nang.
Saya
: egeh mak, matursuwun.........
Singkat cerita setelah telvon emak, saya bantu bntu bersama
pak ali, mbh seno dan kng mujib mengantarkan zakat ke warga sekitar. Setelah
selesai membagikan zakat di sekitar pondok, saya ikut takbiran sebentar...
Pukul sudah menunjukkan 24.00 WIB, waktunya membaca asmaul
husna Bersama-sama di masjid, setelah husnaan di masjid saya tertidur di srambi
masjid sampai pagi, tak terasa adzan subuh sudah berkumandang di susul dengan
orang orang berdatangan untuk jamaah sholat subuh dan gema takbir, alhhuakbar
allahuakbar allhuakbar..... masih berkumandang hati terasa terenyuh
mendengarkan takbiran, seteleah jamaah sholat subuh selesai banyak orang
berdatangan ke masjid dengana memakai baju baru, putih yang mengigatkanku di
kampung halaman.
Setelah selesai sholat idul fitri saya menuju kamar dan
langsung mengambil handphone dan menelvon bapak, saya langsung bilang kalua
ingin sungkem meskipun hanya melaluai handphone, tanpa bisa berjabat tangan.
Saya mulai mengucapka maaf saya pada kedua orang tua
saya: mamak, bapak sedoyo kalepatan salahku teng jenegan, seng taseh
nakal, taseh dablek niki teng jenegan kulo nyuwun ngpunten ingkang
katah geh..
Bapak pun bilang, iyo nang, semono ugo bapakmu akeh
salahe seng tak sengojo ya seng ora sengojo neng anak , jaluk ngapuro,….
Hal yang membuatku haru dan tak kuasa meneteskan air mata
adalah, ketika emak dan bapak minta maaf padaku, sedangkan orang tua tidak
pernah melakukan kesalahan sedikitpun, meskipun terkadan saya bandel harus
dimarai orang tua buka berarti orang tua benci tapi wujud kasih sayang orang
tua pada anaknya.
Dibulan kemenagan dan bulan penuh berkah ini, banyak
kesalahan yang telah saya lakukan baik ucapan dan sikap yang tidak mengenakkan,
saya mohon maaf…..
(Tulungagung,
Mei 2020)

Terenyuh kang mantab
BalasHapusEdisi lebaran gk pulng kng....
BalasHapus